Media Informasi Seputar pendidikan

Showing posts with label Kurikulum dan Pembelajaran PAUD. Show all posts
Showing posts with label Kurikulum dan Pembelajaran PAUD. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

PENGEMBANGAN MODEL PAUD TERPADU DENGAN KESEHATAN DAN KELUARGA

Pengembangan Model Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan Kesehatan dan Keluarga ini dapat dilakukan di lembaga-lembaga PAUD yang telah memiliki akses dengan lingkungan kesehatan dan memiliki program parenting yang baik. Model PAUD terpadu ini bersinergi dengan lingkungan yang mencakup : Anak Usia dini, Layanan pendidikan bagi anak Usia Dini, Pendidikan Kesehatan dan Pendidikan Keluarga. Hal ini bisa dilihat dalam gambar matrik dan prototype di bawah ini :



Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan Kesehatan dan Keluarga adalah :
Suatu usaha sadar dengan dan terencana yang dilakukan oleh keluarga (orang tua atau orang dewasa lainnya) melalui praktik pengasuhan dalam rangka pengembangan potensi anak usia 0-6 tahun yang mencakup upaya perawatan kebersihan diri(higienitas) dan gizi, serta pemberian rangsangan psikososial untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal


Tujuan Pengembangan :

Menemukan Model PAUD terpadu dengan Pendidikan Kesehatan dan Keluarga sebagai panduan yang dapat dijadikan acuan dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan orang tua, kader kesehatan, pendamping dan Pendidik PAUD dalam meningkatkan kecerdasan anak.
Tujuan Penyelenggaraan : 
a. Sebagai Pedoman keluarga dalam meningkatkan pengembangan diri
b. Sebagai Pedoman bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan PAUD dalam meningkatkan pengembangan diri.
 
Hasil yang diharapkan
1. Membantu Pengelola program PAUD Terpadu agar dapat mengelola dan menata organisasi melalui layanan pembelajaran dan pendampingan terhadap keluarga 
2. Memberikan alternataif layanan melalui model PAUD dengan sektor lain secara sinergi


Materi yang diberikan untuk Kesehatan dalam Pengembangan Model Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan Kesehatan dan Keluarga meliputi :

  • Makanan Sehat dan Bergizi seimbang untuk anak dan keluarga
  • Rumah yang sehat dan Bersih
  • Pemeliharaan  Kesehatan Anak dan Keluarga
  • Perawatan pada Anak sakit
  • Penanaman Pendidikan Kesehatan ada Anak Usia Dini
Adapun Materi Pendidikan Keluarga yang diberikan dalam kegiatan PAUD terpadu dengan kesehatan dan Keluarga ini adalah :

  • Peran Keluarga dalam pengasuhan Anak Usia Dini
  • Pendidikan dalam Keluarga
  • Pola asuh orang tua kepada Anak Usia Dini
  • Strategi dalam mengasuh dan membimbing Anak
  • Menjalin Komunikasi dialogis dan efektif dengan Anak
Demikianlah Desain atau model Untuk pengembangan PAUD terpadu dengan kesehatan dan Keluarga, semoga dapat diterapkan dilembaga-lembaga PAUD bunda sekalian, terimakasih.

Sumber : Materi Validasi Program PNFI Tim Pengembang BPKB-PNFI Kalsel 2013 .


CARA MEMPERSIAPKAN PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Kenyataannya mendidik anak itu bukanlah perkara yang gampang dan mudah CARA MEMPERSIAPKAN PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Kenyataannya mendidik anak itu bukanlah perkara yang gampang dan mudah, banyak kegagalan yang terjadi dengan tidak tercapainya tujuan pendidikan yang diinginkan. Kegagalan ini sering terjadi pada kegiatan pendidikan anak biasa (umum) dengan berbagai faktor yang melatar belakanginya. Jika mendidik anak biasa saja susah dan sering gagal, apa lagi menghadapi anak berkebutuhan khusus (dulu istilahnya anak luar biasa), dituntut kesabaran yang luar biasa untuk membantu anak ini dengan memberinya berbagai pendidikan dan latihan untuk membantu mereka agar mampu hidup mandiri, terutama dalam melakukan kegiatan rutin. Tujuan mendidik anak berkebutuhan khusus sama seperti anak normal lainnya, yaitu membentuk karakter, intelek, bakat dan akhlak, sehingga anak memiliki sikap dan perilaku yang berguna bagi kelangsungan hidupnya sesuai dengan harapan masyarakat. hanya saja kelancaran proses belajar terhalang oleh kondisi kondisi mereka yang khusus. Untuk mengatasi halangan ini, perlu di gali kelebihan atau kecakapan yang dimiliki, Misalnya anak yang buka tidak dapat menangkap pelajaran melalui penglihatan, tetapi mereka memiliki pendenganran yang peka. Kemampuan ini harus dilatih berfungsi secara maksimal menggantikan mata sehingga mereka dapat belajar maksimal.

Mempersiapkan pendidikan Anak berkebutuhan khusus :
  • Ciptakan lingkungan keluarga yang hangat, terbuka, komunikatif, sehingga anak merasa diterima oleh orang tua dan saudara-saudaranya
  • Sesering mungkin mengajak anak berdialog (tanya-jawab) untuk melatih kemampuan mengungkapkan keinginan atau pikirannya. 
  • Orangtua pun dapat lebih memahami anaknya. Mengetahui minat, kelebihan-kelebihannya, perasaan dan harapan mereka.
  • Perasaan aman penting bagi mereka untuk mereka (cenderung rendah diri) menumbuhkan rasa percaya diri yang mendorong maju dan besikap positif.
  • Dibutuhkan keteraturan dan kemantapan bentuk pelatihan agar anak memiliki kepercayaan yang kokoh pada diri sendiri maupun orang lain.
  • Adanya prinsip yang teguh membuat anak berani dan tidak mudah diombang-ambing saat menghadapi situasi baru.
  • Orang tua harus teguh mempertahankan hal yang dipandang baik, setia pada komitmen yang dipilih.
  • Orang tua yang membimbing kadang-kadang memberi bantuan, di saat lain (kesal, lelah) membiarkan anak mencoba sendiri. 
  • Hindari ketidak teraturan yang menciptkan keraguan, ia merasa tidak perlu mandiri. 
  • Anak harus diyakinkan bahwa melatihnya mandiri bukan berarti ia tidak disayang orang tuanya.
Hal-hal yang sebaiknya dilakukan orang tua dengan anak berkebutuhan khusus adalah :
  1. Bersikap tegas tetapi tidak terlalu keras pada anak yang berkebutuhan khusus.
  2. Menerima kelemahan dan mengatasinya sedini mungkin dengan memberi banyak rangsangan pada kemampuan lain yang bisa difungsikan menjadi kekuatannya
  3. Sering memberikan kesempatan anak bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman sebaya untuk mengekspresikan perasaan maupun emosinya.
  4. Melatih gerak tubuh melalui permainan, percakapan drama dan lain-lain.
  5. Fokus pada tujuan untuk mencapai kesetaraan pengamatan, panca indra yang berfungsi dan ekspresi verbal atau fisik.
  6. Ajarkan anak peran dan tingkah laku yang diterima masyarakat, seperti tanggung jawab, mandiri, ramah.
  7. Ajarkan nilai-nilai kemanusiaan (tolong menolong, kejujuran, sportif, Toleransi) yang dapat dijadikan prinsip dalam dirinya untuk mengambil keputusan.
  8. Ajarkan anak menyelesaikan masalah.
  9. Orang tua jangan mudah menyerah atau bahkan kalau perlu memaksa diri sendiri atau anak untuk mencapai tujuan belajar dengan memberikan penjelasan dengan sabar sampai ia dapat memahaminya.
  10. Ajarkan anak terlibat dalam kegiatan sosial disekitarnya.
  11. Tumbuhkan terus harga diri anak, yaitu dengan memberikan perhatian terus menerus, menerima anak apa adanya, menghargai hasil dan usaha anak.
Sumber : Disarikan dari berbagai sumber..!!

MENGEMBANGKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK ANAK USIA DINI

kata bijak mengatakan jika kita ingin menguasai dunia MENGEMBANGKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK ANAK USIA DINI
Sebuah kata-kata bijak mengatakan jika kita ingin menguasai dunia, maka kuasailah bahasanya, hal ini bermakna betapa pentingnya bahasa dunia itu yaitu Bahasa Inggris. Karena itu penguasaan bahasa Inggris pada era-globalisasi seperti sekarang ini sudah sangat mendesak dan mutlak diperlukan. Hal ini didasari oleh kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat ditawa lagi yakni komunikasi. Semakin pesat arus globalisasi, maka semakin tak terbataslah ruang dan waktu. Seorang anak yang terlahir pada era seperti ini dihadapkan engan kondisi dimana warga belajar harus menguasai bahasa Inggris yang dalam politik bahasa nasional kita sebut sebagai bahasa asing pertama. Berdasarkan pada asumsi akan hilangnya batasan antara satu negara dengan negara lain, dapat kita pastikan bahwa bahasa Inggris akan mengambil sebagian tempat dari bahasa Indonesia dalam hal komunikasi. Mutlak perlu dan pentingnya penguasaan bahasa Inggris lebih didasari lagi akan kenyataan minimnya buku maupun bahan kepustakaan yang berkualitas yang ditulis dalam bahasa Indonesia, sehingga tidak dapat dihindari lagi setia individu yang ingin maju membutuhkan bahasa Inggris dalam rangka pemahaman pengingkatakan ilmu pengetahuan. Penguasaan bahasa Inggris ini menjadi salah satu prioritas perencanaan pemerintah kita khususnya di jalur pendidikan baik itu formal, nonformal, maupun informal. 

Jalur formal telah sejak dulu merintis pengembangan bahasa Inggris dengan menempatkan pembelajaran bahasa Inggris dalam kurikulumnya. Tidak tanggung-tanggung, pembelajaran bahasa Inggris menjadi satu dari beberapa mata pelajaran yang diujinasionalkan. Namun sepertinya hasilnya belum memperlihatkan hasil yang maksimal, mengingat minimnya jam pelajaran yang ada. Usaha pemerintah tak berhenti sampai di sini, jalur nonformal pun tidak kalah seru geliatnya dalam mengembangkan bahasa Inggris, terbukti dari menjamurnya lembaga-lembaga kursus bahasa Inggris mulai dari lembaga yang bermanajemen profesional hingga yang tergolong biasa-biasa saja.

Melihat usaha pemerintah yang sangat keras dalam meningkatkan pengembangan bahasa Inggris di masyarakat serta melihat pada kenyataan belum maksimalnya hasil yang didapat dari usaha tersebut, kita mencoba menganalisis akan penyebab awal yang menghambat usaha tesebut hingga tidak menghasilkan sesuai dengan apa yang diharapkan. Penyebab utama permasalahan ini permasalahan ini lebih kepada keterlambatan kita dalam mengajarkan bahasa Inggris pada tiap individu. Jika melihat pada sistem pendidikan formal, seorang murid mulai diajarkan bahasa Inggris pada level sekolah lanjutan tingkat pertama, (meskipun sudah ada beberapa sekolah dasar dan taman kanak-kanak yang mulai memasukan pelajaran bahasa Inggris dalam kurikulum). Di sini jelas muncul permasalahan yang sangat kontradiktif dengan teori psikologi perkembangan yang menyatakan bahwa usia 0-6 tahun adalah masa dimana anak seharusnya mulai belajar bahasa.  

Hal ini didukung oleh pendapat Dryden dan Jeannette Vos yang menyatakan bahwa lima puluh persen kemampuan belajar seseorang dikembangkan pada masa empat tahun pertamanya termasuk di dalamnya belajar bahasa. Mereka juga menambahkan bahwa tahun-tahun yang amat penting tersebut meletakan landasan bagi semua proses belajar dimasa depan. Senada dengan pendapat dengan pendapat tersebut. Mc.Laughlin dan Genesee menyatakan bahwa anak-anak lebih cepat memperoleh bahasa tanpa banyak kesukaran dibandingkan dengan orang dewasa. Tidak dapat tersanggahkan lagi, Eric H. Lennenberg, ahli neurologi, berpendapat bahwa sebelum masa pubertas, daya pikir (otak) anank lebih lentur, sehingga memungkinkannya menangkap bahasa yang dipelajarinya dengan mudah. Hal ini dapat dibuktikan dengan menempatkan seorang anak pada sebuah lingkungan yang menggunakan bahasa tertentu, mereka dengan sendirinya ia akan menguasai bahasa tersebut. Bukti nyata yang dapat kita lihat adalah  penguasaan bahasa ibu yang kita miliki tentulah hasil dari pembelajaran bahasa di masa kanak-kanak kita. Dengan latar belakang pada kenyataan-kenyataan ini dapat kita katakan bahwa semakin dini anak belajar bahasa baik itu bahasa ibu, bahasa Indonesia, maupun bahasa asing maka semakin mudah anak tersebut menguasainya.

Jika memang faktor keterlambatan pengajaran bahasa Inggris menjadi penyebab utama dari permasalahan tersebut, maka diperlukan sebuah jalan keluar yang paling cocok untuk menyelesaikannnya. Dalam tulisan ini saya mencoba mengemukakan akan pentinya perana keluarga dan peran pendidikan anak usia dini dalam upaya pengembangan kemampuan berbahasa Inggris pada anak. Tulisan ini bertujuan menggugah hati para guru dan pendidik termasuk orang tua yang akan terus menjadi pendidik bagi anak-anak kelak agar terus mengembangkan diri dalam rangka pengoptimalan peran kita dalam pendidikan anak usia dini pada umumnya dan dalam pengembangan bahasa Inggris khususnya.

Sumber/ Referensi:
- Dari berbagai sumber
- Dryden and Jeannette Vos, 2001 , Revolusi Cara Belajar (The Learning Revolution). Bandung; Kaifa

MENGAPLIKASIKAN PERMAINAN TRADISIONAL ANGKLEK DI PAUD

Sebelum kita melihat bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional angklek pada  MENGAPLIKASIKAN PERMAINAN TRADISIONAL ANGKLEK DI PAUD
Sebelum kita melihat bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional angklek pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), terlebih dahulu kita ketahui dan pahami apa yang disebut dengan "permainan tradisional angklek" tersebut. Permainan Tradisional Engklek sering disebut juga sebagai permainan tradisional Sunda Manda. Engklek atau Sunda Manda ini merupakan sebuah permainan tradisional yang sudah banyak dikenal oleh anak-anak di seluruh Indonesia dan telah banyak dimainkan oleh anak-anak pada masa dahulu, bahkan sekarang ini permainan tradisional engklek juga dimainkan oleh anak-anak muda. 

Permainan tradisional engklek yang juga disebut dengan sunda manda ini diyakini mempunyai nama asli ‘Zondag Maandag’ yang merupakan bahasa Belanda. Jadi berdasar sejarahnya memang permainan tradisional engklek ini masuk ke Indonesia melalui Belanda yang pada masa lalu menjajah Indonesia. Diyakini pada masa penjajahan inilah permainan tradisional engklek dibawa masuk ke Indonesia oleh Belanda. Sunda manda atau juga disebut éngklék, téklék, ingkling, sundamanda / sundah-mandah, jlong jling, lempeng, atau dampu adalah permainan anak tradisional yang populer di Indonesia, khususnya di masyarakat pedesaan.

Permainan ini dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi dengan nama yang berbeda-beda tentunya. Nama-nama untuk permainan Engklek  atau dalam bahasa Inggris ”Hopscotch”, antara lain Engklek (Jawa ), Asinan, Gala Asin (Kalimantan),  Intingan (Sampit),   Tengge-tengge (Gorontalo), Cak Lingking (Bangka), Dengkleng, Teprok   (Bali),  Gili-gili (Merauke),  Deprok (Betawi),   Gedrik (Banyuwangi),  Bak-baan, engkle (Lamongan),  Bendang (Lumajang), Engkleng (Pacitan), Sonda (Mojokerto), Tepok Gunung (Jawa Barat), dan masih banyak lagi nama yang lain.

Memang sampai dengan saat ini tidak ada bukti sejarah yang otentik yang dapat menyimpulkan mengenai sejarah permainan tradisional engklek. Namun permainan tradisional engklek ini sudah sangat populer di kalangan anak perempuan di Eropa pada masa perang dunia. Sedangkan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda banyak dijumpai anak-anak perempuan Belanda bermain permainan tradisional engklek ini. Memang permainan ini lebih banyak dimainkan oleh anak perempuan, walaupun ternyata kemudian anak-anak lelaki pun banyak yang turut bermain permainan tradisional engklek.

Setelah Indonesia merdeka dari penjajahan, permainan tradisional engklek tetap bertahan di Indonesia dan menjadi semakin dikenal oleh anak-anak kecil di Indonesia. Begitupun dalam hal penyebarannya, semakin lama permainan tradisional engklek semakin populer dan menyebar ke seluruh pelosok negeri ini. Hingga akhirnya bisa dibilang tidak ada anak kecil yang tidak tahu permainan tradisional engklek.

Menurut Dr. Smpuck Hur Gronje, permainan ini berasal dari Hindustan. Lalu engklek ini diperkenalkan ke Indonesia. Oleh karena itu, hampir engklek dikenal di setiap Provinsi di Indonesia walaupun dengan nama yang berbeda.Pendapat lain mengatakan bahwa Permainan Engklek ini menyebar pada zaman kolonial Belanda dengan latar belakang cerita perebutan petak sawah. Yang diduga bahwa nama permainan ini berasal dari "zondag-maandag" yang berasal dari Belanda yang berarti Sunday manday dan menyebar ke nusantara pada zaman kolonial, walaupun dugaan tersebut adalah pendapat sementara.


Seperti Apakah Permainan Tradisional Engklek Itu?

Permainan Sunda manda biasanya dimainkan oleh anak-anak, dengan dua sampai lima orang peserta. Di Jawa, permainan ini disebut engklek dan biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Permainan yang serupa dengan peraturan berbeda di Britania Raya disebut dengan hopscotch. Permainan hopscotch tersebut diduga sangat tua dan dimulai dari zaman Kekaisaran Romawi.

Peserta permainan ini melompat menggunakan satu kaki disetiap petak-petak yang telah digambar sebelumnya di tanah.Untuk dapat bermain, setiap anak harus berbekal gacuk yang biasanya berupa sebentuk pecahan genting, yang juga disebut kreweng, yang dalam permainan, kreweng ini ditempatkan di salah satu petak yang tergambar di tanah dengan cara dilempar, petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak / ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada.

Pemain yang telah menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu, berhak memilih sebuah petak untuk dijadikan "sawah" mereka, yang artinya di petak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak itu dengan kedua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan. Peserta yang memiliki kotak paling banyak adalah yang akan memenangkan permainan ini.

Mungkin juga ada diantara kita yang belum tahu seperti apakah sebenarnya permainan tradisional engklek itu. Hal ini wajar karena sekarang ini permainan tradisional engklek memang telah jarang ditemukan diantara permainan anak zaman sekarang.


Pemain Dalam Permainan Tradisional Engklek

Permainan tradisional engklek biasanya dimainkan oleh anak perempuan. Jarang sekali permainan tradisional engklek dilakukan oleh anak laki-laki ataupun anak remaja. Mungkin karena permainan tradisional ini lebih identik dengan anak perempuan.

Engklek bisa dimainkan hanya oleh 1 orang anak saja, bisa lebih dari 1 anak, tapi bisa juga dimainkan secara beregu. Biasanya untuk permainan beregu akan dimainkan oleh 2 regu yang masing-masing terdiri dari beberapa anak.


Membuat dan Penataan Lapangan Untuk Permainan Tradisional Engklek di PAUD

Gambar Permainan Tradisional Engklek di halaman lembaga untuk dapat dimainkan anak-anak setiap saat, anak-anak dapat memainkan engklek di halaman PAUD dengan lebih bersemangat. Permainan ini memang sebuah permainan outdoor atau permainan yang harus dilakukan di luar rumah. Memerlukan sebuah pekarangan kecil untuk dapat memainkan permainan tradisional engklek, inid dapat di pasang pada Lembaga PAUD yang mempunyai halaman atau sebuah tanah pekarangan yang datar dengan ukuran kurang lebih 3 – 4 m2. Permainan sendiri bisa di pasang di atas tanah, pelataran ubin, ataupun aspal.Lapangan atau arena engklek biasanya berupa kotak-kotak atau persegi panjang dengan ukuran sekitar 30 – 60 cm2. Untuk membuat lapangan, anak-anak biasanya menggunakan kapur tulis, pecahan genteng, arang, atau apapun untuk menggambar lapangan engklek. Atau dapat digambar dengan menggunakan cat secara permanen seperti gambar lapangan PAUD di bawah ini :


Sebelum kita melihat bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional angklek pada  MENGAPLIKASIKAN PERMAINAN TRADISIONAL ANGKLEK DI PAUDSebelum kita melihat bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional angklek pada  MENGAPLIKASIKAN PERMAINAN TRADISIONAL ANGKLEK DI PAUD



Cara Bermain Permainan Tradisional Engklek

Permainan tradisional engklek adalah sebuah permainan tradisional sederhana yang dilakukan dengan cara melemparkan sebuah pecahan genteng atau batu berbentuk pipih. Satu anak hanya akan memiliki 1 pecahan genting (kreweng) yang disebut ‘Gacuk’.Permainan dilakukan secara bergantian. Para pemain akan mengundi urutan pemain yang akan bermain. Pemain pertama harus melemparkan pecahan gentingnya ke kotak pertama yang terdekat. Setelah itu dia harus melompat-lompat ke semua kotak secara berurutan hanya degan menggunakan 1 kaki, sedangkan kaki yang lainnya harus diangkat dan tidak boleh turun menyentuh tanah. Kotak yang terdapat gacuk milik pemain tersebut tidak boleh diinjak (harus dilewati). Dan pemain yang sedang bermain dengan meloncat dilarang untuk menyentuh atau menginjak garis pembatas.



Pemain permainan tradisional engklek harus meloncat ke setiap kotak sampai di ujung terjauh yang biasanya berbentuk setengah lingkaran atau kotak yang besar. Dari sana dia harus kembali dengan cara melompat lagi. Saat sampai di kotak yang terdapat gacuk miliknya, dia harus mengambil gacuk itu dengan tangannya, sementara itu sebelah kakinya harus tetap terangkat dan tidak boleh menyentuh tanah. Kemudian dia harus melanjutkan membawa gacuk tersebut sampai keluar kotak pertama.

Pemain permainan tradisional engklek yang sedang bermain harus mengulang permainan ini dengan melempar gacuk dari mulai kotak pertama terus sampai semua kotak, dan akhirnya selesai kembali ke kotak pertama lagi. Namun bagi pemain yang melanggar aturan tidak boleh melanjutkan permainan, dan digantikan oleh pemain berikutnya. Tapi dia boleh melanjutkan permainannnya setelah semua pemain mendapat giliran bermain.

Permainan selesai jika gacuk seorang pemain telah melalui semua kotak sampai kembali lagi ke kotak pertama dengan selamat. Setelah itu pemain tersebut akan berdiri membelakangi lapangan engklek dan melemparkan gacuk-nya ke belakang. Jika beruntung gacuk itu akan berhenti di dalam salah satu yang kosong. Nah kotak itu akan menjadi miliknya atau rumahnya. Tapi jika lemparan gacuk-nya melesat keluar arena atau menyentuh garis batas, maka pemain itu harus mengulang lemparannya setelah pemain berikutnya melempar. Nah aturan lainnya adalah kotak yang sudah ada pemiliknya tidak boleh diinjak pemain lain ataupun disentuh oleh gacuk pemain lain yang dilempar.


Nilai-nilai Pembelajaran dalam Permainan Angklek
di PAUD

Permainan angklek sangat bermanfaat untuk anak. Permainan tradisional engklek juga memiliki nilai-nilai luhur dan makna filosofis. Kepada anak di PAUD akan dapat ditanaknan bahwa dalam Permainan tradisional engklek bisa diartikan sebagai simbol dari usaha kita untuk membangun tempat tinggalnya atau rumahnya. Selain itu permainan tradisional engklek juga memiliki filosofi sebagai simbol usaha manusia untuk mencapai keberhasilan dengan usaha sungguh-sungguh secara bertahap mulai dari yang sederhana dan mudah hingga kepada yang sulit.




Namun dalam pencapaian usaha itu tentu saja manusia tidak bisa sembarangan dengan menabrak semua tata aturan yang telah ada. Namun selalu tetap berusaha selaras dengan aturan yang telah dibuat. Nah dalam permainan tradisional engklek ini juga ada aturan-aturan baku yang menjadi patokan saat bermain permainan tradisional engklek.


Dalam angklek selain bagus untuk melatih fisik dan motorik anak, juga ada unsur latihan dan pembelajaran untuk belajar mengasah dan melatih kemampuan otak anak. anak diajarkan untuk berhitung pada tiap-tiap-tiap petak yang dilewati, juga belajar berlogika dan analisis sedehana untuk menentukan langkah yang sesuai untuk memenangkan permainan tersebut.

Sebelum kita melihat bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional angklek pada  MENGAPLIKASIKAN PERMAINAN TRADISIONAL ANGKLEK DI PAUD

Manfaat lain bagi anak PAUD yang diperoleh dari permainan engklek ini antara lain adalah:
  1. Kemampuan fisik anak menjadi kuat karena dalam permainan engklek mengaktifkan motorik anak dimana anak di haruskan untuk melompat dari satu petak ke petak lainnya. 
  2. Mengasah kemampuan anak bersosialisasi dengan orang lain dan mengajarkan kebersamaan.
  3. Anak dapat menaati aturan – aturan permainan yang telah disepakati bersama.
  4. Mengembangkan kecerdasan logika anak. Permainan engklek melatih untuk berhitung dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya
  5. Anak dapat menjadi lebih kreatif. Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para pemainnya. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan.

Demikian cara mengaplikasikan permainan tradisional Angklek di Lembaga PAUD. Penerapan dapat dilakukan secara sederhana karena tidak memerlukan modal yang begitu besar, tetapi memiliki manfaat yang sangat luar biasa. Terimakasih, semoga bermanfaat.

Sumber referensi :
- Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/sunda_manda)
- http://mainantradisionalindonesia.wordpress.com.
- http://permata-nusantara.blogspot.com
- http://www.shafiyyatul.com

MENGEMBANGKAN KEAKSARAAN YANG SESUAI DENGAN RITME ANAK

 Anak yang berlajar sambil bermain dengan bimbingan orang tua atau orang dewasa yang diken MENGEMBANGKAN KEAKSARAAN YANG SESUAI DENGAN RITME ANAK
Dunia anak adalah dunia bermain. Anak yang berlajar sambil bermain dengan bimbingan orang tua atau orang dewasa yang dikenalkannya akan menunjukan antusiasme belajar. Sebaliknya, anak yang memperoleh pembelajaran keaksaraan yang melebihi kapasitasnya akan mengalami ketegangan penurunan semangat belajar.

Inilah sebuah kenyataan tentang belajar keaksaraan pada anak usia dini. Di satu sisi, secara teoritis, anak tidak boleh dipaksakan untuk belajar keaksaraan. Sementara di sisi lain, balajar keaksaraan identik dengan memenuhi harapan orang tua untuk memberikan paspor bagi anak sebelum memasuki tahun-tahun pertama pengalaman belajarnya pada lingkup pendidikan dasar.

Pandangan tentang tidak boleh memaksakan anak usia dini belajar keaksaraan seperti layaknya anak yang lebih tua usianya dapat dilihat pada dokumen Pusat Kurikulum Balitbang (2007). Dokumen ini mengungkapkan bahwa wacana yang dipergunakan untuk keaksaraan bagi anak usia dini satu bukan membaca dan menulis, akan tetapi pra-membaca, contohnya mulai menunjukan ketertarikan dengan buku/media cetak lainnya (pra-membaca). Hal ini ditandai dengan mengeksplorasi buku atau media cetak lainnya yang memiliki gambar dan warna yang menarik. Meskipun demikian, masih harus didiskusikan apakah tindakan anak usia dini memasukan buku ke dalam mulut atau memukul-mukul merupakan indikator pra-membaca atau semata-mata naluri anak tersebut. Pada usia 1-2 diperoleh gambaran sebagai berikut:

Untuk anak usia 1-2 tahun jauh lebih dapat dipahami, seperti mulai tertarik isi buku dan media cetak lainnya dengan cara menanyakan atau pura-pura menulis. Selanjutnya dapat dilihat pula standar untuk usia 2-3 tahun:

Seperti halnya membaca untuk anak usia 1-2 tahun diwacanakan pra-membaca, Demikian pula menulis dikenal dengan pramenulis dan indikator keduanya antara lain meminta tolong kepada orang dewasa untuk menuliskan cerita gambar yang dibuatnya serta menghasilkan garis-garis dengan alat tulis. Masalah, asumsi permikiran tersebut ditujukan pada masyarakat yang melek baca tulis namun belum mempertimbangkan latar belakang komunitas yang sama sekali orang tua dan belum bisa membaca dan menulis.

Berikut standar untuk anak usai 3-4 tahun diperoleh gambaran sebagai berikut :

Dari semua tahapan yang ditetapkan, kosa kata yang dipergunakan sekali lagu bukan membaca dan menulis, akan tetapi pramembaca dan pramenulis; walaupun terdapat perbedaan yang mendasar antar konsep keaksaraan seperti yang ditetapkan oleh Pusat Kurikulum dengan pengamatan ahli bahasa di negara yang sudah maju.

Pada umumnya masyarakat awam menganggap cukup bila anak diberikan pengetahuan yang berhubungan dengan baca tulis hitung pada awal perkembangan kehidupannya. Anggapan seperti ini membuat anak tidak memiliki perkembangan diri yang seimbang, atau secara teoris diberikan beban yang berlebih pada otak kiri dan tidak lagi diberikan perhatian pad otak kanannnya, bahkan keduanya tidak berjalan secara seimbang. Sehubungan dengan itu Gardener menganggap keseimbangan itu dalam satu kesatuan utuh, berimbang dan proporsional sesuai kecakapan intelektual.

Kenyataannya pada anak jika pembelajaran lebih banyak mengikuti ambisi orang tua dari pada memasuki dunia anak dan ritme yang ada pada anak sendiri akan merupakan hambatan tersendiri dalam pengembangan kemampuan seseorang. Resiko yang sama juga terjadi bila kebiasaan dipaksakan untuk mengikuti bahasa tutur dan mengabaikan kemampuan untuk membaca bahasa tulisan.

Menurut teorinya, pengetahuan dan kecakapan kebahasaan merupakan bagian utama dalam kecakapan intelektual karena fungsi yang strategis dalam komunikasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan sistemik antara kemampuan berbahasa dengan kemampuan berkompetisi dari anak tersebut (Natioan Research Council, 1998). Hampir semua permasalahan dalam kehidupan membutuhkan kemampuan komunikasi dan menjadi persyaratan utama dalam kehidupan modern untuk berekspresi dan bahkan survive dalam kehidupan.

Shonkoff (2000) menekankan kembali bahwa anak dilahirkan ke dunia dibekali dengan kemampuan untuk belajar. Pada lima tahun pertama, pertumbuhan mereka luar biasa terutama dalam kemampuan linguistik, konseptual, sosial, emosional, dan kompetensi motoriknya. Sejaka masa kelahiran seorang anak yang sehat tumbuh menjadi seorang partisipant yang aktif, dibekali dengan kemampuan jelajah lingkungan, belajar untuk berkomunikasi dan setelah sedikit mengikuti pertumbuhannya berkembang dengan kemampuan mengkonstruk ide dan teori tentang benda dan lingkungan sekitarnya.

Oleh Karena itu perlu kiranya dilakukan stimulus yang responsif terhadap perkembangan keaksaraan anak, untuk mengembangkan kemampuan keaksaraan anak sesuai dengan tahapan dan tumbuh kembangnya. Mengembangkan keaksaraan seharusnya dilakukan dengan memperhatikan faktor kemampuan bawaan anak sejak lahir, agar pertumbuhan anak semakin luar biasa, terutama pada lima tahun pertama.

Sumber: Dirangkum dan disarikan dari berbagai sumber!!

PRINSIP UMUM DALAM PEMBELAJARAN PAUD TERPADU

Pendidikan anak usia dini yang diterapkan dalam pembelajaran PAUD terpadu didasarkan atas  PRINSIP UMUM DALAM PEMBELAJARAN PAUD TERPADU
Pendidikan anak usia dini yang diterapkan dalam pembelajaran PAUD terpadu didasarkan atas prinsip-prinsip yang umum tetapi sangat penting sebagai berikut :

1. Berorietasi pada kebutuhan anak
Pada dasarnya  setiap anak memiliki kebutuhan dasar yang sama, seperti kebutuhan fisik, rasa aman, dihargai, tidak dibeda-bedakan, bersosialisasi, dan kebutuhan diakui. Karena itu hak anak dapat menjadi acuan utama dalam memenuhi kebutuhan anak.

2. Sesuai dengan perkembangan anak
Setiap usia mempunyai tugas perkembangan yang berbeda-beda, misalnya pada usia 4 bulan pada umumnya anak bisa bisa tengkurap, usia 6 bulan bisa duduk, 10 tahun bisa berdiri, dan 1 tahun bisa berjalan. Pada dasarnya semua anak memiliki pola perkembangan yang dapat diramalkan, misalnya anak akan bisa berjalan setelah bisa berdiri.

3. Sesuai dengan keunikan setiap individu
Anak merupakan individu yang unik, masing-masing mempunyai gaya belajar yang berbeda. Anak yang lebih mudah belajarnya dengan menggunakan (auditori), ada yang dengan melihat (visual) dan ada yang harus dengan bergerak (kinestetik). Anak juga memiliki minat yang berbeda-beda terhadap alat/bahan yang dipelajari/dipergunakan, juga mempunyai temperamen yang berbeda, bahasa yang berbeda, cara merespon lingkungan, serta kebiasaan yang berbeda.

4. Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain
Pembelajaran dilakukan dengan cara menyenangkan. Melalui bermain anak belajar tenang : konsep-konsep matematika, sains , seni dan kreitivitas , bahasa, sosial , dan lain-lain. Selama bermain, anak mendapatkan pengalaman untuk mengembangkan aspek-aspek atau niali-nilai moral, fisik/motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni.

5. Anak belajar dari konkrit ke abstrak, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari gerakan ke verbal, dan dari diri sendiri ke sosial. Ini meliputi hal-hal sebagai berikut:
  • Anak belajar mulai dari hal-hal yang paling konkrit yang dapat dirasakan oleh inderanya (dilihat, diraba, dicium, dicecap, didengar) ke hal-hal yang bersifat imajinasi.
  • Anak belajar dari konsep yang paling sederhana ke konsep yang lebih rumit, misalnya mula-mula anak memahami apel sebagai buah kesukaannya, kemudian anak memahami apel sebagai buah yang berguna untuk kesehatannya.
  • Kemampuan komunikasi anak dimulai dengan menggunakan bahasa tubuhnya lalu dikembangkan dengan menggunakan bahasa lisan.
  • Anak memahami lingkungannya dimulai dari hal-hal yang terkait dengan dirinya sendiri, kemudian ke lingkungan dan orang-orang yang paling dekat dengan dirinya, sampai kepada lingkungan yang lebih luas.
6. Anak sebagai pembelajar aktif
Dalam proses pembelajaran, anak anak merupakan subjek atau pelaku kegiatan dan pendidik merupakan fasilitator. anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar, mempunyai banyak ide, dan tidak berdiam diri dalam jangka waktu lama.

7. Anak belajar melalui interaksi sosial
Pembelajaran anak melalui interaksi sosial baik dengan orang dewasa maupun  dengan teman sebaya yang ada dilingkungannya. Salah satu cara anak belajar adalah dengan cara mengamati, meniru, dan melakukan. Orang dewasa dan teman-teman yang dekat dengan kehidupan anak merupakan obyek yang diamati dan ditiru anak, Melalui cara ini anak belajar cara bersikap, berkomunikasi, berempati, menghargai, atau pengetahuan dan keterampilan.

8. Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar
Lingkungan merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat bagi anak. Lingkungan berupa lingkungan fisik adalah bagian dari penataan ruangan, penataan alat main, benda-benda perubahan benda (daun muda - daun tua, daun kering, dst), cara kerja benda (bola didorong akan menggelinding, sedangkan kubus didorong akan menggeser, dst), dan lingkungan non fisik berupa kebiasaan orang-orang sekitar, suasana belajar (keramahan pendidik, pendidik yang bersiap membantu. dst)

9. Merangsang munculnya kreativitas dan inovatif.
Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi kreativitas yang sangat tinggi. Ketika anak diberi kesempatan untuk menggunakan berbagi bahan dalam kegiatan permainannya, maka anak akan dapat belajar tentang berbagai sifat dari bahan-bahan tersebut.

10. Mengembangkan kecakapan hidup anak.
Kecakapan hidup meruapakn suatu ktrampilan yang perlu dimiliki anak melalaui pengembangan karakter. Karakter yang baik dapat dikembangkan dan dipupuk sehingga menjadi modal bagi masa depannya kelak. Kecakapan hidup di-arahkan untuk membantu anak menjadi mandiri, tekun, bekerja keras, disiplin, jujur, percaya diri, dan mampu membangun hubungan dengan orang lain. Kecakapan hidup merupakan keterampilan dasar yang berguna bagi kehidupannya kelak. Ini akan sangat menunjang seseorang agar kelak dapat menjadi orang yang berhasil.

11. Menggunakan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan sekitar.
Sumber dan media belajar untuk PAUD tidak terbatas pada alat dan media hasil pabrikan, tetapi dapat menggunakan berbagai bahan dan alat yang tersedia dilingkungan sepanjang tidak berbahaya bagi kesehatan anak. Air, tanah lempung, pasir, batu-batuan, kerang, daun-daunan, ranting, karton, botol-botol bekas, perca kain, baju bekas, sepatu bekas, dan banyak benda lainnya dapat dijadikan sebagai media belajar untuk mengenalkan banyak konsep; matematika, sains, sosial, bahasa, dan seni.   

12. Anak belajar sesuai dengan kondisi sosial budayanya
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan wahana anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang berakar pada sosial budaya yang berlaku di lingkungan Pendidik mengenalkan budaya, kesenian, permainan, anak, baju daerah menjadi bagian dari setting dan pembelajaran baik secara regular maupun melalui event tertentu

13. Melibatkan peran serta orang tua yang bekerja sama dengan para pendidik di lembaga PAUD
orang tua menjadi sumber informasi mengenai kebiasaan, kegemaran, ketidaksukaan anak, dan lain-lain yang digunakan pendidik dalam penyusunan program pembelajaran. Orangtua juga dilibatkan dalam memberikan keberlangsungan pendidikan anak di rumah.

14. Stimulasi pendidikan bersifat menyeluruh yang mencakup semua aspek perkembangan
Saat anak melakukan sesuatu, sesungguhnya ia sedang mengembangkan berbagai aspek perkembangan/kecerdasan. Sebagai contoh saat anak makan, ia mengembangkan kemampuan bahasa (kosa kata tentang nama bahan makanan, jenis makanan, dan sebagainya), gerakan motorik halus (memegang sendok, membawa makanan kemulut), kemampuan kognitif (membedakan jumlah makanan yang banyak dan sedikit). kemampuan sosial emosional (duduk dengan tepat saling berbagi, saling menghargai keinginan teman), dan aspek moral(berdoa sebelum dan setelah makan).

Demikian prinsip-prinsip umum pendidikan anak usia dini yang diterapkan dalam pembelajaran PAUD terpadu di lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD). Semoga bermanfaat, terimakasih.


Sumber: Bahan diklat TOT Pendidik PAUD Direktorat Jenderal  tahun 2012.